Sungai Limau dan Lematang di Lahat Sumsel TERCEMAR LIMBAH Perusahaan Batubara

Lahat – Sumsel; Otoritasnews.com
Perusakan dan Pencemaran lingkungan sungai di kabupaten Lahat provinsi Sumatera Selatan sudah sangat memprihatinkan, padahal masyarakat di Kabupaten Lahat dan sekitarnya sangat menggantungkan sumber kehidupannya pada sungai tersebut, sungai tersebut biasa digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci makanan untuk kebutuhan sehari-hari dan kegiatan lainnya dan bahkan masih ada yang mengandalkan sebagai sumber penghasilannya pada sungai itu, akibat tercemarnya sungai Limau dan sungai Lematang ini masyarakat Kabupaten Lahat dan sekitarnya jelas sangat dirugikan, sumber penghasilan terganggu, kesehatan apalagi, banyak masyarakat mengalami gatal-gatal akibat pencemaran limbah ini.

Mendapati kondisi seperti ini disertai masukan dari masyarakat, Tim investigasi Otoritasmews.com Lahat Sumsel bersama rekan-rekan LSM menelusuri kondisi sungai Limau dan Lematang, dari hasil penelusuran tersebut sangat jelas bahwa warna air sungai berubah, sangat keruh dan bahkan ada sebagian warna Airnya yang hitam, beberapa warga masyarakat yang terdampak langsung terhadap pencemaran sungai Limau membenarkan kondisi sungai yang tercemar.

Pencemaran sungai Limau ini telah berlangsung selama kurang lebih 7 tahun, yaitu semenjak adanya perusahaan batubara yang beroperasi dibagian hulu sungai disertai adanya stockpile distasiun sukacinta, banyaknya perusahaan pertambangan Batubara di kabupaten Lahat membuat sungai Limau tercemar, perusahaan-perusahan dimaksud adalah PT.DAS, PT.ATP, PT. MAS, PT.BAU dan PT.KALOG kata narasumber yang tak ingin disebutkan namanya. Dari sekian banyak nya perusahaan pertambangan tim telah menelusuri lokasi buang limbah pada masing-masing perusahaan, kondisi buangan limbah paling parah berada pada lokasi PT. DAS, sebagaimana gambar/red.

 Lokasi buang limbah PT.DAS

Sungai Limau yang bermuara ke sungai Lematang tepatnya berada di Desa Sukacinta Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan ini dulunya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mandi bahkan sebagai sumber air bersih untuk konsumsi. sekarang ini, jangankan untuk kepentingan konsumsi atau diminum untuk mandipun sudah tak layak. Airnya sudah tak jernih lagi, bahkan pada saat tertentu airnya berwarna hitam pekat dan berminyak, demikian penuturan beberapa warga yang saling membenarkan penjelasan dari yang lain.

Dugaan perusakan lingkungan dan pencemaran sungai Limau sebagai dampak usaha pertambangan batubara tersebut diperkuat dengan hasil Verifikasi lapangan yang dilakukan oleh PD GNPK-RI (LSM) Kabupaten Lahat, PK-DALHI (LSM) bersama Dinas Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu, hasil uji laboratorium bahwa baku mutu lingkungan hidup sangat buruk, melampaui ambang batas.

Pihak DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten lahat telah memberikan sanksi bahkan sanksi yang kedua kalinya kepada PT.Duta Alam Sumatera (DAS) karena tidak mengindahkan sanksi pertama yang diberikan. Namun sampai saat ini pihak perusahaan PT DAS tetap tidak bergeming meskipun peringatan kedua sudah disampaikan sejak 12 Maret 2019 yang lalu, sampai berita ini tayang pihak PT. DAS belum melakukan upaya penanganan limbahnya dengan benar sesuai peringatan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lahat, investigasi masih berjalan untuk update selanjutnya menunggu hasil lebih lanjut. (tim investigasi Otoritasnews.com, Lahat – Sumsel/red)

Tags:

Leave a Reply