SEMESTA NUSANTARA ADALAH RUMAH ORANG INDONESIA

Jakarta, Otoritasnews.com – Realitas; Peristiwa demi peristiwa yang rentan konflik mulai bertaburan di segala lini kehidupan bermasyarakat. Hal yang dahulunya tabu dibalut konsep toleransi, akhirnya mulai tampak jelas tanpa batas. Klaim kebenaran yang sebenarnya sudah kian tumbuh dalam internal kelompok masing-masing, mulai berani mempublikasikan kebenarannya dengan cara mengklaim kesesatan kelompok lain dan seterusnya saling menyalahkan.

Kalau dulu ada adu domba, sekarang ada adu argument sampai adu aib. Bahkan pekerjaan mencari-cari aib sudah semacam tugas wajib bagi setiap kelompok untuk menjatuhkan yang dianggap lawan. Yang paling membuat miris adalah agama yang dijadikan alat mencari simpati massa. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah dagangan laris saat ini, terlepas telah menabrak sendi-sendi pokok tatanan islam sehingga tak lagi mengindahkan apakah itu ghibah atau fitnah.
Dalil-dalil pembenaran disusun sedemikian rapi dalam bingkai jalan kebenaran. Padahal selaku aktifis dakwah, saya selalu ingat bahwa manusia bukanlah tempat kebenaran, melainkan adalah lahan kesalahan.
Sentral problem kelihatannya bersumber dari agama terbesar di negeri ini. Dalam artian; pengkotak-kotakan terjadi di internal Islam yang memicu selisih paham semakin membesar. Sementara di sisi lain, kita sama tahu bahwa Indonesia bukan lah negara Islam. Riak-riak di agama lain seperti kelatahan tokoh yang mungkin berniat baik, hanya dijadikan alat untuk mempertajam pembenaran, sehingga tak ayal jika kata; terzolimi, dikriminalisasi dan persekusi menjadi senjata ampuh untuk mengambil simpati masyarakat.

Sudah menjadi pengetahuan umum kalau kakek moyang kita Adam AS terusir dari surga sebab campurtangan hoaks dari Iblis Laknatullah. Namun dalam doanya Adam AS mengatakan; Rabbana dzolamnaa anfusanaa, yang berarti; Ya Tuhan Kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Adam AS tidak mengatakan; Ya Tuhan kami, Iblis telah menzalimi kami.

Faktor penyebab dapat dibagi menjadi;

1. SUDUT PANDANG DIJAJAH DENGAN MENYUDUTKAN PANDANGAN (PEMAKSAAN SUDUT PANDANG)

a. Pembelaan terhadap hal apa pun tentang Islam dikondisikan sebagai ukuran atau kadar iman dan taqwa seseorang, sehingga masyarakat muslim berbondong-bondong mengaku peduli dengan Islam lantas menjalankan arahan ulama dengan membabi-buta.

b. Masyarakat didakwahi dengan pola hukum agar mulai menghakimi seperti istilah lama, “main hakim sendiri” dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar dan yang berkewajiban tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Hal di atas bertentangan dengan QS Annahl 125 yang menganjurkan dakwah dengan hikmah, bukan hukum.

2. KEBEBASAN BERAGAMA YANG KEBABLASAN

a. Aktifitas dakwah yang kurang dimonitoring.

b. Kepentingan dari pihak luar yang begitu mudah masuk dan memfasilitasi.

Solusi
Solusi; “Kembali ke Rumah Orang Indonesia”. Hanya ini jalan satu-satunya dalam rangka menyatukan kembali rakyat NKRI dengan memaknai PANCASILA.

Selaku warga negara yang tinggal di Jakarta, saya dapat memaklumi berbagai macam perbedaan sudut pandang yang muncul terutama dari luar Ibukota negeri ini. Karena badai hoaks begitu mudah menyapu habis pondasi kebersamaan dan toleransi. Islam yang berasal dari arab, Kristen dari barat, Hindu dari India, Budha dari China atau India, akan semakin dikuatkan ke asalnya sehingga rakyat terkotak-kotakkan agar melupakan bahwa dirinya adalah satu dalam bingkai NKRI.

Dengan tidak melupakan jasa yang lain, secara pribadi saya kagum dengan perjuangan “Nahdatul Ulama” yang pantang menyerah dan bersyukur kepada Allah SWT Yang menitipkan seorang Presiden bijak saat ini, sehingga beliau lebih banyak diam tanpa membalas ghibah dan fitnah demi menjaga kestabilan negara. NU mampu merangkul masyarakat tanpa mengucilkan orang selain muslim. Membuang jauh kata-kata yang menyakitkan seperti kafir, sesat dan lain sebagainya.
Kesimpulan akhir adalah keharusan dakwah secara masif oleh ulama yang benar benar memahami Islam secara utuh dan telah mampu meninggalkan kepentingan pribadinya. (Amran HS/red)

Oleh: Amran HS, aktivis dakwah, ustadz nasional berkedudukan di Jakarta, Ketua PD Al-Washliyah Jakarta Barat

Tags:

Leave a Reply