PKRI menolak keras aksi 1 Desember oleh mahasiswa Papua se-Jawa_Bali

Jakarta, Otoritasnews.com – Keluarga besar Persatuan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) merupakan keluarga para pejuang pembebasan Irian Barat (Papua) yang lahir di era 1960-an, tujuan dibentuknya PKRI untuk melakukan edukasi dan menanamkan nilai-nilai lokal, kebangsaan agar memiliki rasa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa Indonesia, edukasi ini dimulai sejak dini yaitu dimulai dari usia (SD & SMP) dan telah berlangsung secara berkesinambungan pada desa-desa di papua.

Sebagaimana diketahui tanggal 1 Desember oleh sebagian masyarakat Papua dijadikan sebagai hari istimewa karena pada tanggal 1 Desember tahun 1961 untuk pertama kalinya Papua Barat, di bawah administrasi Belanda, mengibarkan bendera Bintang Kejora, simbol pengakuan status keberadaan Papua bagian Barat.

Sejak itu bendera Bintang Kejora dikibarkan di seluruh wilayah Papua Barat berdampingan dengan Bendera Belanda, hingga Belanda menyerahkan otoritas administrasi Papua Barat kepada PBB pada 1 Oktober 1962, lalu ke pemerintah Indonesia pada 1 Mei 1963 dengan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) nya.

Stevanus S. Wetipo (Foto: PJ/Mike Wangge)

Jumat, 30 Nopember 2018 Stevanus S. Wetipo selaku Ketua PKRI, menuturkan kepada pers, pihaknya menghimbau kepada seluruh mahasiswa asal Papua untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa yang melawan ketentuan umum sebagai sebuah bangsa yang bersatu dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sebagai moment sejarah untuk diingat berdasarkan catatan sejarah, sebatas itu masih bisa ditolerir.

“Kami yang ada dan bersatu dalam PKRI adalah anak cucu dari keluarga para Pejuang Pembebasan Irian Barat (Papua) di era 1960-an sampai Papua masuk dan berada dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Anda tahu bagaimana kami mesti melawan setiap gerakan yang bertentangan dengan perjuangan orang tua dan kakek pejuang kami,” jelas Stevanus.

Saat ini semua personil PKRI berada di Jakarta, dan mendengar bahwa mahasiswa asal Papua dari berbagai Perguruan Tinggi di Jawa dan Bali, akan mengadakan AKSI UNJUK RASA DAMAI di berbagai Kota. Untuk hal itu kami mengimbau kepada adik-adik mahasiswa untuk :

  • (A) Jangan menjadikan moment tanggal 1 Desember sebagai HARI KERAMAT bagi orang Papua, mengingat sejarah masa lampau Papua di era 1960-an.
  • (B) Pada prinsipnya PKRI tidak melarang atau menghalangi aksi-aksi yang akan dilakukan oleh para mahasiswa asal Papua untuk menyambut tanggal 1 Desember 2018 ini, karena itu adalah bagian dari kebebasan berpendapat setiap warga negara. Akan tetapi, semuanya harus tetap dalam konteks demokrasi, dengan mengindahkan seluruh peraturan serta tetap menjunjung tinggi nilai2 dan martabat bangsa Indonesia pada umumnya, dan Papua khususnya.
  • (C) PKRI menghimbau kepada adik-adik mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi dimanapun berada di seluruh Indonesia untuk menyudahi kebiasaan ini bertepatan dengan tanggal 01 Desember seolah-olah tanggal tersebut BEGITU SAKRAL BUAT KITORANG PAPUA. Ini hanya akan menimbulkan rasa trauma, dendam, marah yang tidak berkesudahan.
  • (D) Jauh lebih baik dan berguna, mending kita bersekolah/kuliah yang baik, pintar, bersaing, berkompetisi dengan saudara-saudara dari daerah lain membangun Papua yang jauh lebih baik lagi. Jangan sampai kita hanya dimanfaatkan oleh sekelompok orang, atau organisasi tertentu yg mengatas namakan Ham dan alasan apapun tetapi justru mengadu domba, memecah belah masyarakat Papua, padahal oknum -oknum tersebut belum tentu pernah ke Papua dan melihat kondisi riilnya hari ini, dan kita orang Papua hanya dijadikan obyek yang ujung-ujungnya yang rugi adalah orang Papua. Sementara orang atau kelompok tertentu cuci tangan. Tentunya hal ini mengenaskan bagi masyarakat Papua. [PJ/Mike Wangge]
Tags:

Leave a Reply